Selasa, 29 September 2015

NILAI IMUNISASI PII.I.2. THE VALUE OF VACCINATION

Mau Beli Parfum atau Jualan Juga?


PII.I.2. THE VALUE OF VACCINATION

Diketik kembali dari Pedoman Imunisasi di Indonesia edisi 4, Bab I.2, dengan penulis asli: Sri Rezeki S Hadinegoro

Pendahuluan
Dalam dunia kesehatan dikenal 3 pilar utama dalam meningkatkan kesehatan masyarakat yaitu preventif atau pencegahan, kuratif atau pengobatan, dan rehabilitatif.
Melalui upaya pencegahan penularan dan transmisi penyakit infeksi yg berbahaya akan mengurangi morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi pada anak, terutama kelompok di bawah umur 5 tahun.
Penyediaan air bersih, Nutrisi yg seimbang, Pemberian air susu ibu eksklusif, Menghindari pencemaran udara di dalam rumah, Keluarga berencana, dan Vaksinasi merupakan unsur utama dalam upaya pencegahan.
Penyakit infeksi yang berbahaya berarti penyakit tersebut dapat menyebabkan kematian dan kecacatan seumur hidup dan akan menyebabkan beban masyarakat di kemudian hari.

Mempelajari vaksinasi, dunia telah menapaki jalan yg panjang.
Sejak para ahli dalam bidang vaksinasi yaitu Edward Jenner, Louis Pasteur, Emil von Behring, dan Shibasaburo Kitasato, Johan Salk, dan Albert Sabin, selama hampir 3 abad yaitu antara tahun 1689 sampai tahun 1950-an telah meletakkan dasar-dasar imunisasi yang kita kenal saat ini.
Sampai akhirnya kini telah dikenal secara luas adanya vaksin sebagai ‘alat’ yg efektif dan murah untuk perbaikan kesehatan umat manusia.
Anak-anak di semua negara secara rutin telah mendapat imunisasi untuk mencegah penyakit berbahaya sehingga imunisasi merupakan dasar kesehatan masyarakat.

Namun, disayangkan masih banyak negara berkembang yg masih belum dapat mencapai universal child immunization (UCI) karena cakupan imunisasi yg rendah.
Sebenarnya apabila UCI dapat dicapai maka kita dapat menyelamatkan 3 juta anak yang meninggal akibat penyakit yg dapat dicegah dengan imunisasi setiap tahun.

Upaya imunisasi di Indonesia dapat dikatakan telah mencapai tingkat yg memuaskan.
Namun, dari Survei Kesehatan dan Demografi Indonesia (SKDI) diketahui bahwa pada 2 tahun terakhir cakupan imunisasi sangat dirasakan dengan ditemukannya kembali kasus poilo dan difteria di negara kita.
306 orang anak menderita poliomielitis pada periode Mei 2005 sampai dengan Februari 2006 sebagai akibat cakupan vaksinasi polio yg menurun di daerah Cidahu, Sukabumi.
Angka kejadian difteria yg masih tinggi pada tahun 2000 ditemukan 1036 kasus dan 174 kasus pada th 2007 merupakan bukti bahwa vaksinasi DPT tidak merata.
Keadaan yg memprihatinkan ini ditambah lagi dengan maraknya kampanye anti vaksin yg disuarakan oleh kelompok tertentu.
Pandangan negatif terhadap vaksinasi bukan saja dikemukakan oleh masyarakat awam namun juga oleh sebagian petugas kesehatan.

MILLENIUM DEVELOPMENT GOALS SASARAN TAHUN 2015
Dunia telah bersepakat untuk melakukan upaya mensejahterakan masyarakatnya bersama-sama.
Kesepakatan tersebut tertuang dalam program Millenium Development Goals (MDGs) = Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium.
Sebagai bagian dari upaya untuk memenuhi komitment tersebut, Indonesia selaku salah satu negara yang turut menandatangani Deklarasi Milenium pada September 2000, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencana Pembangunan Nasional telah mengeluarkan Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium pada Februari 2004.
Pencapaian MDGs tujuan (goal) nomer 4 adalah menurunkan kematian anak, dengan target menurunkan angka kematian balita menjadi 2/3 dari tahun 1990 ke tahun 2015.
Menurut SKDI angka kematian balita tahun 1998-2003 adalah 46 per 1000 kelahiran hidup, jauh menurun dibandingkan 216 per 1000 kelahiran hidup tahun 1960.
Namun kita perlu sadari bahwa angka kematian bayi di Indonesia tertinggi di antara negara ASEAN (4,6 kali di Malaysia, 1,3 kali Filipina, dan 1,8 kali kematian bayi di Thailand).
Target tahun 2015 angka kematian balita harus turun menajdi 23 per 1000 kelahiran hidup.
Di dalam mencapai tujuan keempat MDGs, program vaksinnais menduduki peran yg sangat penting dan strategis.
Mengapa?
Apa saja kelebihan yg berada di balik program imunisasi tsb?
Saya meminjam istilah seorang pakar health economist David Bloom yg mengupas tentang the values of vacination.

IMUNISASI SEBAGAI UPAYA EFEKTIF PENCEGAHAN PENYAKIT.
Seorang dapat menderita penyakit infeksi sebagai akibat dari interaksi antara “host” (pejamu) yaitu orang yg diserang penyakit, “agent” (mikroorganisme penyebab penyakit, dapat bersifat ganas atau tidak , dan “enviroment” (lingkungan yg menyokong terjadinya penyakit).
Apabila salah satu komponen dominan atau lemah maka infeksi tersebut akan terjadi.
Dalam upaya pencegahan, kita dapat mengendalikan faktor pejamu.
Melalui imunisasi dapat diupayakan mempertinggi kekebalan pejamu terhadap penyakit tertentu sehingga dapat melawan mikroorganisme penyebab penyakit, tanpa harus mengalami sakit terlebih dahulu.
Mengingat pemberian antibiotik tidak menyelesaikan semua masalah penyakit infeksi, maka lebih bijak apabila kita dapat mencegah terjangkitnya penyakit infeksi.
Dalam sepuluh tahun terakhir, duinia sudah mengubah paradigma kuratif ke arah preventif, yg lebih murah dan efektif.

DAMPAK IMUNISASI SECARA INDIVIDU DAN SOSIAL
Nilai (value) vaksin dibagi dalam 3 kategori yaitu secara individu, sosial, dan keuntungan dalam menunjang sistem kesehatan nasional.
Secara singkat, apabila seseorang anak telah mendapat vaksinasi maka 80%-95% akan terhindar dari penyakit infeksi yg ganas.
Makin banyak bayi/ anak yg mendapat vaksinasi (dinilai dari cakupan imunisasi), makin terlihat penurunan angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas).
Kekebalan individu ini akan mengakibatkan penularan penyakit dari anak ke anak lain atau kepada orang dewasa yg hidup bersamanya.
Inilah yg disebut keuntungan sosial, karena dalam hal ini 5%-20% anak yg tidak diimunisasi akan juga terlindung, disebut herd immunity atau kekebalan komunitas.
Maka mendeteksi daerah penularan penyakit melalui program imunisasi sangat membantu mencari siapa target vaksinasi sehingga akan tepat sasaran dan lebih cepat menurunkan insidens penyakit, upaya ini disebut source drying.

Keuntungan lain, dengan menurunnya angka kesakitan akan menurunkan pula biaya pengobatan dan perawatan di rumah sakit, mencegah kematian dan kecacatan yg akan menjadi beban masyarakat seumur hidupnya.
Dengan mencegah seorang anak dari penyakit infeksi yg berbahaya, berarti akan meningkatkan kualitas hidup anak dan meningkatkan daya produktivitas di kemudian hari.
Perlu diingat bahwa 30% dari anak-anak masa kini adalah generasi yg akan memegang kendali pemerintahan di masa yg akan datang.

Vaksinasi merupakan upaya paling ampuh dalam mencegah penyebaran/ penularan penyakit infeksi yg ganas dan menular dari orang ke orang lain.
Sebagai pengalaman yg tidak mungkin terlupakan adalah terjadinya “reinfeksi polio” di negara kita, Februari 2005.
Sebenarnya program vaksinasi polio di negara kita sudah sangat baik, hal ini dibuktikan dengan tidak ditemukan lagi kasus polio di Indoensia sejak tahun 1995.
Namun mengapa pada awal th 2005 ada kasus polio kembali?
Cakupan imunisasi polio yg rendah membuat suatu daerah rentan thd penularan.
Kasusu polio impor dari Sudan ditemukan di Sukabumi, Jawa Barat, dalam waktu yg sangat singkat dapat menyebar sampai Nangroe Aceh Darusalam dan dari Jawa Barat menyebar sampai ke Jawa Timur dan pulau Madura.
Dalam waktu kurang dari 6 bulan telah ditemukan 306 kasus polio dengan kelumpuhan yg menetap.
Melalui upaya yg menghabiskan dana yg sangat besar (PIN 6 kali dan Sub PIN 5 kali), dan menguras tenaga para petugas kesehatan yg dibantu para kader telah menghalau penyakit polio dari bumi kita, terbukti kasus polio terakhir dilaporkan pada tanggal 22 Februari 2006 di NAD.

KEAMANAN VAKSIN DIUTAMAKAN
Upaya imunisasi di Indonesia yg telah dilakukan sejak tahun 70-an pada bayi dan anak, merupakan program untuk memenuhi Konvensi Hak Anak yg diberlakukan sejak 2 September 1990 oleh PBB.
Konvensi Hak Anak meliputi hak atas kelangsungan hidup (survival), hak untuk berkembang (development), hak atas perlindungan (protection) dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat (participation).
Maka sebagai upaya nyata, pemerintah bersama orang tua mempunyai kewajiban memberikan upaya kesehatan terbaik demi tumbuh kembang anak, dan imunisasi merupakan upaya pencegahan yg efektif terhadap penyakit infeksi yg dapat menyebabkan kematian dan kecacatan.
Dengan makin banyaknya bayi/ anak yg mendapat imunisasi, penyakit yg dicegah tersebut makin arang terlihat lagi.
Di lain pihak, rasa ketakutan kepada efek samping vaksinasi menjadi lebih dominan dibandingkan dengan ketakutan terhadap penyakitnya.
Padahal akibat dari penyakit jelas lebih membahayakan dibandingkan dengan dampak imunisasi.
Misalnya anak yg terkena campak akan mengalami demam tinggi (terjadi pada 90%) sehingga anak dapat mengalami kejang untuk anak yg mempunyai riwayat kejang demam, dapat mengalami pneumonia 40% kasus, atau ensefalitis 2% sebagai komplikasi campak.
Sedangkan akibat imunisasi campak tidak seberapa apabila dibanding dengan penyakitnya, demam yg akan timbul satu minggu setelah imunisasi terjadi pada sekitar 10% dari anak yg diimunisasi dan dapat diobati dengan obat penurun panas.

Berbagai jenis vaksin yg beredar di masyarakat sejak 10 tahun terakhir, merupakan vaksin yg aman dan ampuh.
Berarti, vaksin yg dipergunakan di seluruh dunia mempunyai keamanan yg sama karena mempergunakan standar internasional.
Di samping itu, vaksin tersebut dapat menimbulkan kekebalan yg lebih baik dan lebih tinggi kadarnya, sehingga bertahan dalam jangka waktu yg lebih lama daripada vaksin terdahulu.
Vaksin adalah mikroorganisme atau toksoid yang diubah sedemikian rupa sehingga patogenitas atau toksisitasnya hilang tetapi masih dapat mengandung sifat antigenisitas.
Pada dasarnya vaksin dibagi menjadi vaksin dibagi menjadi vaksin hidup yg dilemahkan (live attenuated vaccine) dan vaksin mati (killed inactivated vaccine)
Vaksin hidup mempunyai kelebihan karena dapat menghasilkan kadar antibodi yg lebih tinggi dan pada umumnya bertahan lama.
Namun, dapat menimbulkan reaksi simpang yg berat, sesuai dengan infeksi alami.
Sedangkan vaksin mati, dapat berupa mikroorganisme utuh atau komponennya.
Komponen yg dipilih adalah komponen mikroorganisme (antigen) yg bersifat imunogen artinya yg bertanggung jawab terhadap respons antibodi yg diinginkan.
Keuntungan vaksin mati/ komponen pada umumnya tidak memberikan reaksi simpang yg berat (reaksi sistemik), namun menyebabkan reaksi simpang lokal (pada tempat suntikan).
Reaksi lokal tersebut disebabkan oleh zat lain yg terdapat di dalam vaksin seperti adjuvant, preservations, buffer, antibiotik, atau zat pelarut.
Zat-zat tersebut diperlukan untuk meningkatkan titer antibodi yg dibentuk, sebagai pengawet ataupun melindungi terhadap kontaminan pada vaksin yg dikemas sebagai multi dose vial.

Keinginan menghasilkan vaksin yg lebih aman dan dapat memberikan perlindungan selama mungkin, membuat para ahli berupaya mengurangi reaksi simpang yg dapat ditimbulkan, mencari antigen yg tepat, mencari adjuvant yg aman untuk meningkatkan kadar antibodi protektif sehingga bertahan lebih lama,memilih protein aktif yg dapat berkonyugasi dengan antigen polisakarida, serta mempergunakan DNA recombinant.
Maka dengan teknologi rekayasa genetik, dapat dihasilkan vaksin-vaksin dengan teknologi baru seperti vaksin rekombinan (vaksin rekombinan HepB), vaksin split (vaksin influenza), vaksin aselular pertusis, vaksin konjugasi (vaksin pneumokokus, meningokokus), vaksin kombinasi (vaksin DTP-Hib, DTP-hepatitis B, DTP-Hib-IPV), adjuvanted vaccine (vaksin HPV), dan vaksin DNA (vaksin dengue).

Keamanan vaksin tercermin dari kualitas dan kuantitas vaksin yg diberikan, yg akan menentukan keberhasilan vaksinasi seperti cara pemberian, dosis, interval pemberian, dan jenis vaksin.
Cara pemberian vaksin akan mempengaruhi respons imun yg timbul.
Misalnya vaksin polio oral (OPV) akan menimbulkan imunitas lokal di samping sistemik, sedang vaksin polio parenteral (IPV) akan memberikan imunitas sistemik yg lebih baik daripada lokal.
Hal lain mengenai dosis vaksin, dosis yg terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mempengaruhi respons imun.
Dosis terlalu tinggi akan menghambat respons imun, sedang dosis terlalu rendah tidak merangsang sel imunokompeten.
Maka dosis yg tepat adalah dosis yg sesuai dengan dosis yg direkomendasikan.
Frekuensi pemberian juga mempengaruhi respons imun yg terjadi.
Respons imun sekunder menimbulkan sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksinya, dan afinitasnya yg lebih tinggi.
Di samping frekuensi, jarak pemberian pun akan mempengaruhi respons imun yg terjadi.
Apabila pemberian vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar antibodi spesifik masih tinggi, maka antigen yg masuk segera dinetralkan oleh antibodi spesifik yg masih tinggi tersebut sehingga tidak sempat merangsang sel imunokompeten.
Bahkan dapat terjadi apa yg dinamakan reaksi Arthus, yaitu bengkak kemerahan di daerah suntikan antigen akibat pembentukan kompleks antigen-antibodi lokal sehingga terjadi peradangan lokal.
Oleh karena itu jadwal pemberian ulang (booster) sebaiknya mengikuti apa yg dianjurkan.

Ajuvan adalah zat yg secara nonspesifik dapat meningkatkan respons imun terhadap antigen.
Ajuvan akan meningkatkan respons imun dengan mempertahankan antigen pada atau dekat dengan tempat suntikan, dan mengaktivasi sel APC (Antigen Presenting Cells) untuk memproses antigen secara efektif dan memproduksi interleukin yg akan mengaktifkan sel imunokompeten lainnya.
Namun adjuvan dapat menyebabkan reaksi lokal pasca imunisasi, walaupun pada umumnya ringan.
Keberhasilan imunisasi juga tergantung pada status imun pejamu dan faktor genetik maka untuk individu dengan defisiensi imun diperlukan panduan imunisasi khusus.

RISK AND BENEFITS OF IMMUNIZATION
INVESTASI KESEHATAN
Beberapa ahli memperkirakan bahwa vaksinasi mempunyai nilai di bawah keperluan esensial lain seperti pengobatan dan pendidikan, maka keluarga harus menabung untuk keperluan tersebut.
Tidak terpikirkan oleh mereka bahwa pencegahan penyakit akan mengurangi biaya pengobatan dan meningkatkan mutu pendidikan akan mengurangi biaya pengobatan dan meningkatkan mutu pendidikan apabila anak tetap sehat.
Oleh karena itu para ahli kesehatan masyarakat mengatakan program imunisasi sangat efektif dan murah apabila diberikan dalam cakupan yg luas, secara nasional.
Imunisasi berguna sebagai investasi untuk kesejahteraan anak masa depan, seperti yg dilaporkan dalam World Development Report tahun 1993 yaitu investing in health.
Untuk menghitung berapa nilai vaksinasi sebagai alat pencegahan penyakit, diperlukan perhitungan secara farmako-ekonomi, dengan memperhitungkan terlebih dahulu parameter yg akan dipergunakan.
Badan Kesehatan Dunia untuk Regional Asia Tenggara (WHOSEARO), mengatakan bahwa apabila suatu negara memerlukan vaksin sebagai upaya pencegahan penyakit secara nasional, harus melalui beberapa tahapan pemikiran dan strategi.

PERTAMA, tentukan besaran masalah penyakit yg akan dicegah dengan vaksinasi tersebut, disebut burden of disease.
Jadi kita harus tahu penyebab penyakit infeksi tersebut, data dari kelompok usia beberapa yg paling banyak terkena, bagaimana gejala penyakitnya, bagaimana cara penularannya, berapa besar kematian, bagaimana pengobatan dan bagaimana apabila terjadi komplikasi, apakah jika setelah anak sembuh akan menderita kecacatan seumur hidup?
Sehingga dengan demikian dapat dinilai berapa uang yg dapat diinvestasikan dibandingkan pengeluaran yg harus dikeluarkan apabila anak sakit.
Sebagai contoh, kematian anak di bawah umur 1 tahun di Indonesia 75% disebabkan karena infeksi saluran nafas akut, komplikasi perinatal (bayi umur 0-28 hari), dan diare.
Maka upaya untuk mengatasi ketiga penyebab kesakitan dan kematian utama tersebut harus diutamakan.
Cukup banyak vaksin yg dapat dicegah penyakit yg berhubungan dengan infeksi saluran nafas akut, yaitu vaksinasi campak dapat mencegah 20%, pertusis 15%, Hib 8%, dan pneumokokus 25%.
Mengingat hampir 50% dari diare disebabkan oleh rotavirus, maka vaksinasi rotavirus akan sangat bermanfaat dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian pada diare.

KEDUA, kajian terhadap vaksin yg akan dipergunakan secara masal.
Bagaimana keamanan vaksin, berapa lama menimbulkan kekebalan, bagaimana efek samping yg dapat terjadi setelah diimunisasi (kejadian ikutan pasca imunisasi/ KIPI), berapa besar vaccine efficacy dalam upaya mencegah penyakit (diketahui dari pemantauan jangka panjang).

KETIGA, keberadaan jumlah vaksin yg telah beredar harus senantiasa dijaga (sustainable), untuk hal ini produsen vaksin harus memperhatikan keadaan jumlah vaksin di pasaran tidak boleh sampai kekurangan.

KEEMPAT, menghitung keuntungan dan kerugian dalam menerima vaksin baru (cost benefit analysis).
Dalam penghitungan cost benefit, semua keuntungan, dan kerugian dihitung dalam bentuk uang.
Termasuk di dalamnya berapa biaya perawatan dan pengobatan apabila sakit, kerugian tidak sekolah, kerugian orang tua menunggu anaknya apabila sakit sehingga tidak bekerja, dan yg paling penting berapa kerugian apabila menjadi cacat seumur hidup.
Di pihak lain berapa keuntungan yg didapatkan termasuk peningkatan kualitas hidup naka sehingga tidak terkena penyakit, efektifitas dan efikasi vaksin untuk mencegah penyakit, dan peningkatan nilai kesehatan orang di sekitarnya (indirect impact/ herd immunity).
Analisis tersebut dihitung dengan DALY’s score.

EXTENDING LIFE EXPECTANCY
Melalui penilaian hal-hal yg telah disebutkan, akan dapat dirasakan bahwa dengan memberikan vaksinasi pada seorang bayi/ anak lebih banyak manfaatnya daripada kerugiannya.
Imunisasi dapat mencegah penyakit di masa depan.
Sebagai contoh hepatitis B, melalui imunisasi hepatitis B pada bayi dapat mencegah kejadian hepatocarcinoma pada umur produktif (30-40 tahun).
Oleh karena sekitar 90% bayi yg dilahirkan oleh ibu dengan infeksi hepatitis B aktif akan mengalami infeksi virus hepatitis B, 95% akan berkembang menjadi kronik dan menjadi kanker hati di kemudian hari.
Contoh lain, pemberian vaksinasi tetanus minimal harus diberikan 5 kali seumur hidup, untuk mencegah hampir 100% tetanus neonatorum pada bayi yg dilahirkan.
Demikian juga vaksinasi MMR pada anak di usia 15 bulan dan 5 tahun, akan mencegah cacat bawaan apabila di kemudian hari telah menjadi seorang ibu.
Ibu hamil yg menderita rubela akan melahirkan bayi dengan cacat bawaan disebut rubela kongenital (76%) dengan kelainan jantung bawaan, katarak, microcephal, sehingga keterlambatan perkembangan anak.
Dengan beberapa contoh tersebut, dapat dikatakan bahwa imunisasi merupakan investasi untuk mendapatkan kesejahteraan di masa depan dan akan memperpanjang usia harapan hidup.

MENCEGAH PERKEMBANGAN BAKTERI YG RESISTEN TERHADAP ANTIBIOTIK
Keuntungan lain dari pencegahan infeksi, adalah mencegah terjadinya resistensi antibiotik terhadap bakteri penyebab.
Melalui pencegahan penyakit, insiden penyakit akna menurun oleh karena transmisis penyakit menurun, termasuk menurunnya bakteri yg resisten terhadap antibiotik.
Tampak penurunan angka kejadian resistensi terhadap Streptococcus pneumonia mengikuti program vaksinasi pneumokokus konyugasi di Amerika Serikat sejak tahun 2000.

KEAMANAN MELAKUKAN PERJALANAN KE NEGERI ENDEMIK
Imunisasi sangat penting untuk keamanan perjalanan ke negara endemik suatu penyakit, misalnya calon haji harus mendapat vaksinasi meningitis meningokok.
Berkumpulnya begitu banyak orang dari segala penjuru dunia, terutama dari daerah meningitis belt di Afrika.
Oleh karena meningokokus tidak ada di Indonesia, maka orang Indonesia tidak mempunyai antibodi terhadap meningokok dan rentan terhadap penularan.
Penyakit lain yg diperlukan untuk berkunjung ke luar negeri adalah yellow fever dan Japanese encephalitis.

PENINGKATAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu negara tentunya akan lebih baik apabila masyarakatnya lebih sehat sehingga anggaran untuk pengobatan dapat dialihkan kepada keperluan lain yg membutuhkan.
Perhatian orang tua pun dapat terpusat pada peningkatan ekonomi dan tidak diganggu oleh kesakitan anak-anaknya.

PENINGKATAN PERDAMAIAN
World Health Organization membuat ilustrasi yg telah terjadi di Bangladesh saat akan dilakukan imunisasi masal (PIN polio) maka untuk sementara kedua organisasi yg sedang bertengkar, damai untuk sementara.
Jadi walaupun dalam keadaan perang, imunisasi dapat menjadi upaya perdamaian demi kesehatan masyarakatnya.

PENCEGAHAN TERHADAP BIOTERRORISM
Isu bioterrorism akhir-akhir ini muncul sebagai hal yg mengancam keamanan suatu negara.
Dengan pemberian vaksinasi lengkap, maka kita tidak perlu khawatir terhadap isu tersebut yg mungkin belum tentu benar.

HORMATI ORANG TUA UNTUK MEMILIH
Dalam dunia kedokteran modern, hak otonomi orang tua sebagai pengasuh anaknya tidak boleh dilupakan.
Dalam istilah etik kedokteran dikenal 3 pilar utama yaitu Beneficence, Nonmaleficence, dan Justice.
Hal tersebut mempunyai implikasi kepada dokter untuk selalu menghormati kehendak orang tua karena anak tidak dapta mengemukakan pendapatnya sendiri.
Orang tua akan memilih hal yg mereka “kehendaki” walaupun  sebenarnya hal tersebut salah.
Oleh karena itu, dalam menentukan pilihan orang tua untuk anaknya harus mendapat keterangan yg benar.
Penerangan yg tidak benar terutama mengenai keamanan vaksin akan menyebabkan pendapat negatif orang tua terhadap imunisasi secara keseluruhan.
Apalagi publikasi negatif terhadap imunisasi sangat mudah didapat baik di toko buku maupun di dunia maya (internet).
Penting harus dijelaskan bahwa memberikan vaksinasi kepada anaknya jauh lebih menguntungkan (secara individu dan sosial/ lingkungannya) daripada kerugiannya (kejadian ikutan pasca imunisasi).
Sehingga dapat dikatakan imunisasi adalah investasi untuk kesehatan manusia di masa depan.

Beneficence berarti berbuat baik untuk mendapat outcome yg lebih baik dan dalam aspek imunisasi pada umumnya terkenal istilah ‘common good’ atau ‘public good’.
Sedangkan non-maleficence berarti ‘to do no harm’ yg dalam aspek imunisasi berarti apakah pemberian vaksinasi dapat menimbulkan risiko negatif, misalnya vaksin pertusis dapat menimbulkan risiko kejadian ikutan pasca imunisasi ensefalopati.
Seorang anak mempunyai hak untuk tetap sehat yg merupakan salah satu keadilan dalam upaya kesehatan, termasuk imunisasi.
Jadi dalam keadilan termasuk hak asasi anak dan orang tuanya untuk mendapat imunisasi.
Dalam hal imunisasi termasuk pemberian vaksin baru, maka pemerintah mempunyai kewajiban untuk mengadakannya dan memberikan kepada anak untuk melawan penyakit yg berbahaya.
Apabila orang tua menolak anaknya diimunisasi, hal tersebut juga merupakan hak asasi orang tua untuk menolak.
Namun kita wajib memberikan informasi yg jelas dan mudah dimengerti.

Diharapkan pada era demokrasi terkait dengan pemberian imunisasi, kehendak orang tua harus dihormati dalam memilih imunisasi bagi anaknya.
Namun, penerangan nilai-nilai yg terkandung dalam upaya imunisasi harus diberikan secara baik dan bijaksana sehingga kemantapan program imunisasi di Indonesia akan tercapai.
Value dari vaksinasi perlu disebarluaskan dalam mengatasi negative campaign terhadap imunisasi yg akhir-akhir ini berkembang di negara kita.

PEDOMAN IMUNISASI di INDONESIA
Bersambung ...
=======================================================================

www.sahabat-wangi.com/index.php?id=drfreddy
WA 081808395318
BBM 5376DABF
Email: federicomahora@outlook.com
http://freddyfragrance.blogspot.co.id/

Jangan lupa "Like" www.facebook.com/federicomahoraindonesia#

Mau Beli Parfum atau Jualan Juga?


Minggu, 20 September 2015

PII.I.1 IMUNISASI UPAYA PENCEGAHAN PRIMER

Mau beli atau jualan parfum?


PII.I.1 IMUNISASI UPAYA PENCEGAHAN PRIMER

Diketik ulang dari PEDOMAN IMUNISASI DI INDONESIA BAB I.1 yang ditulis oleh I.G.N Gde Ranuh

Penduduk Indonesia pada tahun 2006 telah melampaui 220 juta dan ditengarai pula bahwa pertumbuhan penduduk bergerak lebih cepat, tidak sesuai dengan perhitungan semula.
Pengendalian pertumbuhan penduduk hanya difokuskan pada pasangan usia subur yg sangat miskin yg notabene jumlahnya kecil sekali yaitu 19% dari total jumlah pasangan usia subur di Indonesia.

Perhitungan terdahulu mengatakan bahwa laju pertumbuhan penduduk akan terus turun  bahkan pada tahun 2020-2025 dimungkinkan mencapai 0,92%!
Namun kenyataan dewasa ini laju pertumbuhan penduduk Indonesia telah mencapai angka yg cukup tinggi: 1,3%
Jumlah anak di bawah umur 15th masih merupakan golongan penduduk yang sangat besar, yaitu kurang lebih sebesar 70juta (30,26%) dan usia balita sebesar 23,7juta (10,4%).

Masalah lain yg penting dan memprihatinkan adalah meningkatnya kurang gizi di berbagai pelosok Indonesia.
Apabila gizi kurang sebesar 37,5% pada tahun 1998 berhasil ditekan mencapai 19,3% pada tahun 2002, gizi buruk sebesar 6,3% pada tahun 1989 tidak berhasil ditekan bahkan setelah tahun 2002 berprevalensi untuk menjadi lebih dari 10% yg dapat kita saksikan belakangan ini.
Penyebabnya adalah kurang berfungsinya posyandu di masyarakat di masa yg lalu, yaitu sejak krisis moneter 1997, bencana alam yg datang bertubi-tubi di tanah air kita ini dan situasi politik dan keamanan yang tidak kondusif.

Dengan revitalisasi posyandu dan program KB diharapkan situasi kesehatan masyarakat dan pertumbuhan penduduk dapat dikendalikan kembali.

Berkurangnya fungsi Posyandu, pemantauan anak kurang mendapatkan perhatian, yg tercermin dengan menurunnya kesehatan anak pada umumnya, khususnya adanya gizi kurang dan infeksi yg beberapa tahun yg lalu sudah reda, menyerang anak-anak kembali, seperti Demam dengue, Poliomielitis, Demam Tifoid, Difteri, Campak , dan lain-lain.

Pembangunan nasional jangka panjang menitikberatkan pada kualitas hidup sumber daya manusia yg prima.
Untuk itu kita bertumpu pada generasi muda yg memerlukan asuhan dan perlindungan thd penyakit yg dapat menghambat tumbuh kembangnya menuju dewasa yg berkualitas tinggi guna meneruskan pembangunan nasional jangaka panjang tersebut.

Profil epidemiologis di Indonesia sebagai gambaran tingkat kesehatan di masyarakat masih memerlukan perhatian khusus yaitu,
1.Angka kematian kasar (CMR): 7,51 per 1000/tahun.
2.Angka kematian bayi (IMR): 48 per 1000 lahir hidup/ tahun.
3.Angka kematian balita (U5MR): 56 per 1000 lahir hidup/ tahun.
4.Angka kematian ibu hamil (MMR): 470 per 100.000 lahir hidup/ tahun.
5.Cakupan imunisasi: BCG 85%, DTP 64%, Polio 74%, HB1 91%, HB2 84,4%, HB3 83,0%, TT ibu hamil: TT-1 84% dan TT-2 77% (WHO)

Angka kematian bayi (AKB atau IMR) dalam 2 dasawarsa terakhir ini menunjukkan penurunan yg bermakna, yaitu apabila pada th 1971 sampai 1980 memerlukan 10tahun untuk menurunkan AKB dari 142 menjadi 112 per 1000 kelahiran hidup dan hanya dalam kurun waktu 5 tahun, yaitu tahun 1985 sampai 1990 Indonesia berhasil menurunkan AKB dari 71 menjadi 54 dab bahkan dari data 2001 telah menunjukkan angka 48 per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Indonesia 2001).
Penurunan tersebut diikuti dengan angka kematian balita atau AKABA yg telah mencapai 56 per 1000 kelahiran hidup.

Prestasi yang gemilang tersebut tidak lain disebabkan karena penggunaan teknologi tepat guna selama itu, yaitu memanfaatkan dengan baik Kartu Menuju Sehat untuk memantau secara akurat Tumbuh kembang anak, Peningkatan penggunaan ASI, Pemberian segera cairan oralit pada setiap kasus diare pada anak dan Pemberian imunisasi pada anak balita sesuai Program Pengembangan Imunisasi (PPI) yaitu BCG, Polio, Hepatitis B, DTP, dan Campak, bahkan pada tahun 1990 Indonesia telah mencapai “Universal Child Immunization (UCI)” dengan cakupan imunisasi sebesar 90% pada anak balita.
Ditambah lagi dengan gerakan PIN (Pekan Imunisasi Nasional) terhadap penyakit polio pada tahun 1995 – 1996 – 1997 secara berturut-turut dan serentak di seluruh tanah air.

Namun kemudian karena adanya “outbreak” polio yg dimulai di Jawa Barat dilakukan tindakan-tindakan khusus untuk mencegah menjalarnya lagi polio liar di Indonesia secara intensif dengan pengulangan PIN pada tahun 2005 yg mudah-mudahan berhasil kita kendalikan.
Pada kesempatan tersebut juga vaksinasi terhadap tetanus dan campak diberikan dengan harapan dapat mengurangi kesakitan dan kematian karena kedua penyakit tersebut.

VAKSINASI, SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PRIMER
Seiring dengan menurunnya angka kesakitan dan kematian anak pada umumnya kualitas hidup bangsa akan meningkat pula.
Di samping itu, dengan terjadinya transisi demografik mengakibatkan berkurangnya jumlah anak dalam satu keluarga (satu keluarga memiliki 3 orang anka) maka kelompok usia produktif akan meningkat.

Meskipun demikikan usia anak di bawah 15 tahun masih merupakan kelompok penduduk yng sangat besar dan memerlukan perhatian yang lebih besar lagi.
Hasil penelitian di dunia mengatakan bahwa angka kelahiran dan usia harapan hidup di suatu negara berkaitan, yaitu makin rendah angka kelahiran makin tinggi usia harapan hidup.
Untuk itu pencegahan terhadap penyakit infeksi maupun upaya yang menentukan situasi yg kondusif untuk itu mutlak harus dilakukan pada anak dalam tumbuh kembangnya sedini mungkin guna dapat mempertahankan kualitas hidup yg prima menuju dewasa.

Demikian pula perhitungan ekonomi mengatakan bahwa pencegahan adalah suatu cara perlindungan yg paling efektif dan jauh lebih murah daripada mengobati apabila sudah terserang penyakit dan memerlukan perawatan rumah sakit.

Secara konvensional, upaya pencegahan penyakit dan keadaan apa saja yg akan menghambat tumbuh kembang anak, seperti cedera dan keracunan karena kecelakaan, kekerasan pada anak (fisik, mental maupun seksual), konsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang, dapat dilakukan dalam 3 tingkat, yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier yg dapat dilaksanakan selama masa tumbuh kembangnya sejak pra-konsepsi, prenatal, masa neonatal, bayi, masa sekolah, dan remaja menuju dewasa.

Pencegahan primer adalah semua upaya untuk menghindari terjadinya sakit atau kejadian yang mengakibatkan seseorang sakit atau menderita cedera dan cacat.

Memperhatikan gizi dengan sanitasi lingkungan yg baik, pengamanan terhadap segala macam cedera dan keracunan serta vaksinasi atau imunisasi terhadapa penyakit adalah rangkaian upaya pencegahan primer.

Pencegahan sekunder dengan deteksi dini, bila diketahui adanya penyimpangan kesehatan seorang bayi atau anak maka intervensi atau pengobatan perlu segera diberikan untuk koreksi secepatnya.
Memberi pengobatan perlu segera diberikan untuk koreksi secepatnya.
Memberi pengobatan sesuai diagnosis yg tepat adalah suatu upaya pencegahan sekunder agar tidak terjadi komplikasi yang tidak diinginkan, yaitu meninggal atau meninggalkan gejala sisa, cacat fisik maupun mental.

Sedangkan pencegahan tersier adalah membatasi berlanjutnya gejala sisa tersebut dengan upaya pemulihan seorang penderita agar dapat hidup mandiri tanpa bantuan orang lain, sperti contoh pada terapi rehabilitasi medik pada seorang anak dengan lumpuh layuh pada penyakit polio maupun cacat lainya karena cedera kecelakaan dan lain-lain sebab.

Vaksinasi atau imunisasi merupakan teknologi yg sangat berhasil di dunia kedokteran yg oleh Katz (1999) dikatakan sebagai “sumbangan ilmu pengetahuan yg terbaik yg pernah diberikan padara ilmuwan di dunia ini”, satu upaya kesehatan yg paling efektif dan efisien dibandingkan dengan upaya kesehatan lainnya.

Pada tahun 1974 cakupan imunisasi baru mencapai 5% dan setelah dilaksanakannya imunisasi global yg disebut dengan “Extended Program on Immunization (EPI)” cakupan terus meningkat dan hampir setiap tahun minimal sekitar 3 juta anak dapat terhindar dari kematian dan sekitar 750.000 anak terhindar dari kecacatan.
Namun demikian, masih ada satu dari empat orang anak yang belum mendapatkan vaksinasi dan 2 juta anak meninggal setiap tahunnya karena penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi.

Harapan akan hilangnya penyakit polio, campak dan lain-lainnya di dunia adalah sesuatu yg tidak mustahil sehingga setiap anak dapat tumbuh kembang secara optimal.
Perbaikan gizi anak disertai penyehatan lingkungan tidak cukup untuk mencegah tertularnya anak oleh kuman, virus maupun parasit.
Vaksinasi dapat menekan penyakit yang endemik dan erat hubungannya dengan lingkungan hidup.

WHO telah mencanangkan program imunisasi tersebut sejak 1974 dengan EPI dan kemudian lebih luas lagi dengan GPV (Global Programme fo Vaccines and Immunization), organisasi pemerintahan dari seluruh dunia bersama UNICEF, WHO, dan World Bank.
Ditambah lagi organisasi perorangan Bill dan Melinda Gates Children’s Vaccine Programme dan Rockefeller Foundation.

Kekebalan atau imunitas tubuh terhadap ancaman penyakit adalah tujuan utama dari pemberian vaksinasi.

Pada hakekatnya kekebalan tubuh dapat dimiliki secra pasif maupun aktif.
Keduanya dapat diperoleh secara alami maupun buatan.
Kekebalaan pasif yg didapatkan secara alami adalah kekebalan yg didapatkan transplasental, yaitu antibodi diberikan ibu kandungnya secara pasif melalui plasenta kepada janin yg dikandungnya.
Semua bayi yg dilahirkan telah memiliki sedikit atau banyak antibodi dari ibu kandungnya.

Sedangkan kekebalan pasif buatan adalah pemberian antibodi yg sudah disiapkan dan dimasukkan ke dalam tubuh anak.
Seperti pada bayi baru lahir dari ibu yg mempunyai HbsAg positif memerlukan imunoglobulin yg spesifik hepatitis B yg harus diberikan setelah lahir dengan segera.
Pada seorang penderita yg sakit dapat pula diberikan antibodi yg spesifik sesuai antigen sakitnya secara pasif.
Kekebalan aktif dapat diperoleh pula secara alami maupun buatan.

Secara alami kekebalan aktif didapatkan apabila anak terjangkit suatu penyakit, yg berarti masuknya antigen yg akan merangsang tubuh anak membentuk antibodi sendiri secara aktif dan menjadi kebal karenanya.
Mekanisme yg sama adalah pemberian vaksin yg merangsang tubuh manusia secara aktif membentuk antibodi dan kebal secara spesifik terhadap antigen yang diberikan.

IMUNISASI DAN VAKSINASI
Perlu diketahui bahwa istilah imunisasi dan vaksinasi seringkali diartikan sama.
Imunisasi pasif adalah suatu pemindahan atau transfer antibodi secara pasif.
Vaksinasi adalah imunisasi aktif dengan pemberian vaksin (antigen) yg dapat merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh.

Imunitas secara pasif dapat diperoleh dari pemberian 2 macam imunoglobulin, yaitu imunoglobulin yg non-spesifik atau gammaglobulin dan imunoglobulin yg spesifik yg berasal dari plasma donor yg sudah sembuh atau baru saja mendapatkan vaksinasi penyakit tertentu.

Imunoglobulin yg non-spesifik digunakan pada anak dengan defisiensi imunoglobulin sehingga memberikan perlindungan secara segeradan cepat.
Namun perlindungan tersebut tidak berlangsung permanen melainkan hanya untuk beberapa minggu saja.
Demikian pula imunoglobulin yg non-spesifik mahal dan memungkinan anak justru menjadi sakit karena kebetulan atau karena suatu kecelakaan srum yg diberikan tidak bersih dan masih mengandung kuman yg aktif.

Sedangkan imunoglobuinn yg spesifik diberikan kepada anak yg belum terlindung karena belum pernah mendapatkan vaksinasi dan kemudian terserang misalnya penyakit difteri, tetanus, hepatitis A dan B.

Vaksinasi, merupakan suatu tindakan yg dengan sengaja memberikan paparan dengan antigen yg berasal dari suatu patogen.
Antigen yg diberikan telah dibuat demikian rupa sehingga tidak menimbulkan sakit namun mampu memproduksi limfosit yg peka sebagai antibodi dan sel memori.
Cara ini meniru infeksi alamiah yg tidak menimbulkan sakit namun cukup memberikan kekebalan.
Tujuannya adalah memberikan “infeksi ringan” yg tidak berbahaya namun cukup untuk menyiapkan respon imun sehingga apabila terjangkit penyakit yg sesungguhnya di kemudian hari anak tidak menjadi sakit karena tubuh dengan cepat membentuk antibodi dan mematikan antigen/ penyakit yg masuk tersebut.

Demikian pula vaksinasi mempunyai berbagai keuntungan, yaitu:
-Pertahanan tubuh yg terbentuk oleh beberapa vaksin akan dibawa seumur hidupnya.
-Vaksinasi adalah “cost-effective” karena murah dan efektif.
-Vaksinasi tidak berbahaya.
Reaksi yg serius sangat jarang terjadi, jauh lebih jarang daripada komplikasi yg timbul apabila terserang penyakit tersebut secara alami.

PEDOMAN IMUNISASI di INDONESIA
Bersambung ...
========================================================================

Mau tahu tentang FM Indonesia, buruan supaya ngak nyesel, segera klik
www.sahabat-wangi.com/index.php?id=drfreddy
WA 081808395318
BBM 5376DABF
Email federicomahora@outlook.com
http://freddyfragrance.blogspot.co.id/
Jangan lupa "Like" www.facebook.com/federicomahoraindonesia#

Mau beli atau jualan parfum?


BAB 15 PENILAIAN PERTUMBUHAN (Nelson 20th edition)

Mau beli atau jualan parfum?

BAB 15 PENILAIAN PERTUMBUHAN (Nelson 20th edition)

Banyak masalah biofisiologi dan psikososial dapat berdampak buruk terhadap pertumbuhan, dan aberrant growth dapat menjadi tanda awal dari underlying problem.
Alat paling kuat dalam pengukuran pertumbuhan adalah kurva pertumbuhan digunakan dengankombinasi dengan pengukuran akurat tinggi, berat, lingkar kepala, dan penghitungan BMI.

PROSEDUR UNTUK PENGUKURAN AKURAT
Penilaian pertumbuhan memerlukan pengukuran akurat.
Berat harus ditentukan dengan accurate scale.
Untuk infant dan toddler, dapatkan berat, panjang, lingkar kepala.

Penghitungan harus dilakukan dalam keadaan telanjang, dan idealnya, pengukuran ulang menggunakan alat yg sama.
Lingkar kepala ditentukan menggunakan flexible tape measure mulai dari supraorbital r
menggunakan stadiometer.
Pengukuran dengan cara lain, seperti marking examination paper di kaki dan kepala dari anak yg berbaring, atau menggunakan Simple Wall Growth Chart dengan buku atau penggaris pada kepala dapat mengarahkan ke tidak akuratan yg membuat pengukuran sia-sia
Adalah penting untuk membandingkan pengukuran dengan trend pertumbuhan sebelumnya, ulangi bila ada inkonsistensi dan plot secara longitudinal.

DERIVATION AND INTERPRETATION
Th 2000, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mempublikasikan kurva pertumbuhan yg baru menggantikan versi 1977.
Modifikasi sejak itu tidak mengganti data points.
Set 1 termasuk 5th to 95th percentiles; set 2, the 3rd to 97th percentiles.
Kurva ini mengandung data dari survei nasional oleh National Center for Health Statistics antara 1963 – 1994.
Data mewakili US population, baik demografic dan pada bayi term ASI.
Langkah metodologi telah menjamin bahwa peningkatan prevalensi obesitas has not unduly raised the upper limits of normal.
Beberapa kekurangan dari kurva lama telah dikoreksi, seperti over-representasi pada bottlefed infant dan reliance on local data set untuk kurva infant.
The disjunction antara panjang dan tinggi, bila bergerak dari kurva infant untuk mereka, tidak ada lagi.
Kurva meliputi kurva untuk memplot BMI untuk 2-20th daripada berat thd tinggi, memfasilitasi identifikasi obesitas.
Data dipresentasikan dalam 5 kurva standar spesifik gender:
1.Weight for age
2.Height (length and stature) for age
3.Headcircumference
4.Weight for height for infants
5.BMI untuk umur untuk anak lebih dari 2th

Tiap kurva dikomposisikan dari kurva persentil, mewakili cross-sectional distribution dari berat, panjang, tinggi, lingkar kepala, berat thd panjang, atau BMI tiap umur.
Kurva persentil mengindikasikan persentase anak-anak pada umur tertentu pada sumbu x dimana hasil ukuran jatuh dibawah corresponding value pada sumbu y.
Pada kurva berat untuk anak laki 0-36bl, umur 9bl intersects kurva 25th persentil pada 8.6kg, menunjukkan 25% dari bayi laki 9bulan dalam NCHS sample weigh kurang dari 8.6kg (75% beratnya lebih).
Sama, bila bayi laki 9 bulan berat lebih dari 11.2kg lebih berat dari 95% sesamanya.
Median atau 50th persentil juga disebut Standard value, in the sense bahwa standard height untuk bayi 7 bulan, adalah 67cm.
Kurva berat thd tinggi dikonstruksi in an analogous fashion, dengan panjang dan tinggi sebagai pengganti umur pada sumbu x, median atau standard berat untuk perempuan 110cm adalah 18.6kg.

Untuk bayi, the revised CDC charts mewakili observed tapi tidak necessarily optimal growth karena mereka sedang menginkorporasikan data dari banyak bottlefed infants.
Angka insiasi breastfeeding di US telah meningkat 2kali lebih dari 26% di 1970 ke 74% di 2005, tetapi secara nasional baru 49% yang melanjutkan breastfeed di umur 6bulan, dan hanya 27% sampai 12mo.
Dibandingkan dengan standard sekarang, exclusively breastfed infant akan diharapkan to plot higher untuk berat di 6 bulan pertama, tetapi relatif lebih rendah pada second half of the 1 tahun pertama.
Awareness dari this growth difference should mencegah overidentification of masalah pertumbuhan pada bayi breastfed.

Dalam usaha untuk men set standard yang dapat dipakai secara internasional untuk pertumbuhan anak optimal, WHO released kurva pertumbuhan berdasarkan Multicenter Growth Reference Study untuk young children di 2006 dan untuk anak 5-19th di 2007.
Daripada menggambarkan pertumbuhan anak tertentu, Multicenter Growth Reference Study menggambarkan pertumbuhan anak yang predominan breastfed dan dibesarkan dalam kondisi optimal.
6 tempat studi mewakili 5 benua yaitu, US, Brazil, Norway, Ghana, Oman, dan India.
Pengunaan kurva WHO di negara berkembang menghasilkan identifikasi banyak anak yang malnutrisi dan eligible untuk program therapeutic feeding.
Penggunaan di US umumnya menghasilkan lebih sedikit bayi diidentifikasikan sebagai underweight, meskipun studi menemukan overindication pertumbuhan buruk bahkan menggunakan kurva ini.
CDC merekomendasikan penggunaan kurva WHO untuk anak US dari lahir sd 24bulan.

Untuk remaja, harus digunakan hati-hati dalam mengaplikasikan cross-sectional charts.
Pertumbuhan selama remaja dihubungkan sementara dengan onset pubertas, yang sangat bervariasi.
Dengan menggunakan data based umur kronologis, kurva mengkombinasikan youth who different stages of maturation.
Variasi normal dalam waktu growth spurt dan mengarahkan misdiagnosis abnormalitas pertumbuhan.
Data anak laki 12 tahun termasuk baik early-maturing boys yg berada pada puncak growth spurtsnya dan late-maturing yang masih bertumbuh pada kecepatan prepubertal.
The net result adalah to artificially level of the growth peak, membuat ia tampak bahwa pertumbuhan remaja lebih gradual dan untuk periode panjang lebih dari yang seharusnya.
Ketika presisi tambahan penting, kurva pertumbuhan muncul dari data longitudinal, seperti height velocity chart of Tanner, direkomendasikan.

Specialized chart telah dikembangkan untuk berbagai anai warga US dengan variasi kondisi, termasuk Very-low birthweight and prematurity; Sindrom Down; Turner; dan Klinefelter; Cerebral palsy; and Achondroplasia.

BMI untuk umur melengkapik kurva pertumbuhan standar untuk anak berumur lebih dari 2 th.
BMI dapat dihitung sebagai berat dalam kilogram/ (tinggi (m))2.
Nilai dapat diplotkan pada kurva BMI standard.
Perhitungan ini dapat dengan mudah dilakukan secara elektronik.
Persentase BMI bervariasi dengan umur over childhood: wanita 6 th dengan BMI 21 adalah overweight, di lain pihak wanita 16 th dg BMI yg sama adalah diatas 50th percentile.

Electronic Medical Recods (EMRs) termasuk kurva pertumbuhan dan biasanya menghitung dan memplot BMI.
Meskipun demikian, the origin of kurva pertumbuhan yg dimasukkan di EMR yang digunakan oleh spesialis anak may be unknown to the pediatrician; konsekwensinya, spesialis anak are cautioned untuk menghubungi perusahan EMR dan memastikan kurva pertumbuhan CDC dan WHO tersedia di EMR untuk memastikan penilaian akurat.

Kurva Height Velocity,yg dapat mengevaluasi rate pertumbuhan tiap tahun, dipertimbangkan oleh banyak pihak dapat memberikan indikator yang lebih sensitif dan spesifik dari pertumbuhan abnormal.
Mereka digunakan primarily oleh spesialis anak endokrin.
Meskipun banyak orang tua berpikir adalah penting untuk melihat kurva pertumbuhan, orang tua dapat salah menginterpretasikan.
Klinisi agar berhati-hati saat menyediakan interpretasi jelas ketika menggunakan kurva pertumbuhan sebagai alat bantu visual.

ANALYSIS OF GROWTH PATTERNS
Growth is a process daripada sebuah kualitas statik.
Bayi pada 5th percentile dari berat menurut umur Dapat bertumbuh normal, Dapat gagal tumbuh, atau Dapat pulih dari gagal tumbuh, tergantung  trajectory kurva pertumbuhan.
Bayi dapat kehilangan sampai 10% berat lahirnya pada minggu pertama kehidupan dan mendapatkan kembali di akhir minggu ke 2.
Mereka akan gain steadily pada rate 20-30g/day untuk 3 bulan pertama.

0-3bulan ( rerata bertambah berat 30g/hari ( panjang 3.5cm/bulan ( lingkar kepala 2cm/bulan ( Recommended daily allowance 115kcal/kg/hari
3-6bulan ( 20g/hari ( 2cm/bulan ( 1cm/bulan ( 110kcal/kg/hari    
6-9bulan ( 15g/hari ( 1.5cm/bulan ( 0.5cm/bulan ( 100kcal/kg/hari
9-12bulan ( 12g/hari (1.2cm/bulan ( 0.5cm/bulan ( 100kcal/kg/hari
1-3year ( 8g/hari ( 1cm/bulan (0.25cm/bulan ( 100kcal/kg/hari
4-6year ( 6g/hari ( 3cm/tahun ( 1cm/tahun ( 90-100kcal/kg/hari                                                                                                                                                                                                                                                       
Despite fakta bahwa kurva NCHS mewakili cross-sectional daripada data longitudinal dan bahwa anak cenderung bertumbuh in spurts, kebanyakan anak tend to track along a percentile, referred sebagai mengikuti kurva.
Pengecualian normal biasanya terjadi antara umur 6 – 18 bulan.
Untuk bayi full-term, ukuran saat kelahiran merefleksikan pengaruh lingkungan uterus; meskipun demikian ukuran 2 tahun berhubungan dengan rerata tinggi orang tua, merefleksikan pengaruh gen.
 Antara 6 dan 18 bulan, bayi dapat shift percentiles di atas atau di bawah toward potensi genetik mereka.
Sehingga, kebanyakan anak akan track sepanjang growth percentile, dengan variasi dalam 2 pita besar percentile (small infant dapat track antara 5th and 25th percentiles, a large one antara 75th dan 95th)
Tracking ini sering merepresentasikan the midparental height and a corresponding weight, di mana midparental height dihitung dalam metric seperti ini
Laki: [(maternal height + 13) + paternal height]/2
Perempuan: [maternal height + (paternal height – 13)]/2

Penting untuk mengkoreksi faktor-faktor yang bervariasi dalam plotting dan interpretasi kurva pertumbuhan.
Untuk premature infants, overdiagnosis gagal tumbuh dapat dihindari dengan penggunaan kurva pertumbuhan yang dikembangkan secara spesifik untuk populasi ini.
Metode yang lebih kasar, mengurangi minggu prematurity dari umur postnatal ketika plotting parameter pertumbuhan, tidak dapat menangkap variasi dalam kecepatan pertumbuhan yang very-low birthweight infants tunjukkan.
Meskipun very-low birthweight infants dapat terus menunjukkan catchup growth selama early school age, most achieve weight catchup selama tahun kedua dan height catchup umur 2.5tahun, barring komplikasi medis.
Untuk anak dengan particularly tall atau short parents, ada risiko overdiagnosis gangguan pertumbuhan bila tinggi orang tua tidak masuk hitungan atau sebaliknya underdiagnosis gangguan pertumbuhan bila tinggi orang tua accepted uncritically sebagai penjelasannya.

Analisis pola pertumbuhan dan deteksi aberrant growth pattern menyediakan critical information untuk deteksi kondisi patologis.
Perhitungan pertumbuhan harian dan bulanan, seperti weight gain dalam g/hari, allows perbandingan yang lebih presisi dari kecepatan pertumbuhan normal.
Weight loss, atau gagal untuk mendapatkan secara normal seringnya adalah tanda awal patologis.

Diagnosis gagal tumbuh, biasanya diagnosis anak <3th, dipertimbangkan bila berat anak Di bawah 5 percentile, bila Turun lebih dari 2 garis percentile utama, atau bila Berat untuk tinggi <5 percentile.
Berat untuk tinggi <5th percentile tetap Single best growth chart indicator untuk Acute Undernutrition.
BMI <5th percentile juga mengindikasikan anak underweight.
Brief periods kehilangan berat atau poor weight gain biasanya cepat dikoreksi dan tidak secara permanen mempengaruhi ukuran.
Anak-anak yang telah secara kronis malnutrisi dapat pendek (stunted) selain kurus, jadi kurva berat untuk tinggi mereka relatif normal.
Kronis, severe undernutrition pada infancy dapat menekan pertumbuhan kepala, yang merupakan prediktor buruk untuk later cognitive disability.
Low weight for age atau height atau Weight loss may be referred to as Wasting.
Bila parameter pertumbuhan dibawah 5th percentile, values dapat diekspresikan sebagai persentase dari median, atau standard value.
Perempuan 12 bulan berat 7.1kg adalah 75% dari median weight (9.5kg) untuk seumurnya.

Cara lain untuk mengevaluasi berat adalah determinasi berat ideal untuk height dan membandingkan dengan berat saat ini dengan berat ideal untuk panjang atau tinggi.
15 bulan anak laki yg79cm berada pada 50th percentile.
Berat idealnya 12kg.
Bila beratnya 8kg (<5 percentile), ia hanya 67% dari berat badan ideal, indikasi severe wasting.

Tinggi atau berat ekstrim dapat juga diekspresikan dalam term umurnya dimana mereka merepresentasikan standard atau median.
Untuk contohnya 30bulan anak laki adalah 79cm (<5%) adalah 50th percentile untuk umur 16bulan.
Thus the height age adalah 16 bulan.
Weigth age dapat juga diekspresikan seperti ini.

INTERPRETATION OF PERCENT OF IDEAL BODY WEIGHT
>120% ( Obese
110-120% ( Overweight
90-110% (Normal variation
80-90% ( Mild wasting
70-80% ( moderate wasting
<70% ( Severe wasting

LINEAR GROWTH DEFICIENCY (STUNTING) adalah more likely hasil dan kongenital, konstitutional, familial, atau penyebab endokrin daripada karena defisiensi nutrisi.

Dalam gangguan endokrin, panjang dan tinggi berkurang pertama atau bersamaan dengan berat; berat untuk tinggi dapat normal atau meningkat.
Dalam insufisiensi nutrisi, berat berkurang  sebelum tinggi, dan Berat untuk tinggi nya rendah (kecuali ada kronik stunting)
Typical growth curves untuk 4 kelas of decreased linear growth.
Pada Congenital pathologic short stature, bayi lahir kecil dan bertumbuh bertahap, bayi dilahirkan kecil dan bertumbuh secara gradual tapers off through-out infancy.
Penyebab termasuk abnormalitas kromosom (Sindrom Turner, Trisomy 21), Perinatal Infection, Extreme prematurity, dan Teratogen (Phenytoin, alcohol).
Dalam constitutional growth delay, berat dan tinggi berkurang near the end of infancy, paralel the norm melalui middle childhood, dan accelerate menjelang akhir adolescence.
Ukuran dewasa adalah normal.
Dalam familial short stature, baik infant dan parents kecil, bertumbuh paralel ke dan sedikit lebih rendah dari kurva normal.

Obesitas mempengaruhi sejumlah besar anak.
Kurva pertumbuhan mengkonfirmasikan impresi obesitas bila berat untuk tinggi melebihi 120% dari standard (median) berat untuk tinggi.
Berdasarkan CDC, BMI lebih dari 95th percentile indikasikan obesitas dan BMI antara 85th dan 95th persentil mengindikasikan berat berlebih.
Meskipun secara luas diterima sebagai best clinical measure dari under dan overweight, BMI tidak dapat menyediakan accurate index of adiposity, karena tidak membedakan lean tissue dan tulang dari lemak.
Pengukuran dari triceps, subscapular, and suprailiac skinfold thickness dapat digunakan untuk memperkirakan adiposity; mempertimbangkan pengalaman yang dibutuhkan untuk accuracy.
The American Academy of Pediatric Nutrition Handbook, 6th editio, mempertanyakan penggunaan fat folds untuk memperkirakann total body fat, notinng bahwa metode tersebut belum divalidasi di young children dan asumsi dasar metode tersebut adalah lemak subkutan adalah penanda lemak total dan tempat yang diukur merepresentasikan rerata lemak kulit, adalah tidak benar.
Metode lain adalah mengukur lemak, seperti Hydrodensitometry, Bioelectrical impedance, dan pengukuran Total body water telah dilakukan dalam riset tetapi tidak dalam evaluasi klinis.

INDEX PERTUMBUHAN LAIN
PROPORSI TUBUH
Proporsi tubuh mengikuti a predictable sequence of changes with develpment.
Kepala dan tubuh relatif besar saat lahir dengan progresif pemanjangan extremitas throughout development, khususnya saat pubertas.
LOWER-BODY SEGMENT DIDEFINISIKAN PANJANG SIMFISIS PUBIS KE LANTAI, DAN UPPER-BODY SEGMEN ADALAH TINGGI DIKURANGI LOWER-BODY SEGMENT.
The Ratio of Upper-body segment dibagi Lower-body segment (U/L ratio) sama dengan kira-kira 1.7 saat lahir, 1.3 saat 3 tahun, 1.0 setelah 7tahun.
Higher U/L ratios adalah karakteristik Short-limb dwarfism atau Bone disorders seperti Rickets.

SKELETAL MATURATION
Reference standards untuk maturasi tulang memfasilitasi estimasi umur tulang.
Umur tulang berkorelasi dengan tahap pubertal development dan dapat membantu dalam memprediksi tinggi dewasa di Early- atau Late-maturing adolescents.
Dalam Familial short stature, umur tulang adalah normal (dibandingkan dengan umur kronologis).
Dalam Constitutional delay, Endocrinologic short stature, dan Undernutrition, umur tulang is low dan comparable to the height age.
Maturasi tulang berhubungan lebih erat dengan sexual maturity rating daripada umur kronologis.
It is more rapid and kurang bervariasi pada perempuan daripada laki.

PERKEMBANGAN GIGI
Perkembangan gigi termasuk mineralisasi, erupsi, dan exfoliasi.
Mineralisasi awal dimulai as early as trimester ke 2 (rerata untuk central incisors, 14minggu) dan berlanjut sampai 3 tahun untuk gigi primer (deciduous) dan 25th untuk gigi permanen.
Mineralisasi dimulai pada crown dan progresses laterally.
Exfoliasi dimulai saat umur 6th dan berlanjut through umur 12th.
Erupsi gigi permanen dapat mengikuti exfoliasi segera atau dapat lag sampai 4-5bulan.
Waktu perkembangan gigi poorly correlated dengan proses lain pertumbuhan dan maturasi.
Delayed eruption selalu dianggap bila tidak ada gigi sampai usia 13 bulan (mean +3SD).
Penyebab utama termasuk Hipotiroid, Hipoparatiroid, Familial, dan (Most Common) idiopathic.
Gigi individual dapat gagal erupsi karena mechanical blockage (Crowding, Gum fibrosis).
Penyebab exfoliasi dini termasuk Histiocytosis X, Cyclic neutropenia, Leukemia, Trauma, dan Idiopathic factors.
Gangguan nutrisi dan metabolik, Prolonged illness, dan Medikasi lain (tetracycline) biasanya menyebabkan perubahan warna dan malformasi dari enamel gigi.
A discrete line of pitting di enamel menandakan a time-limited insult.


========================================================================

Mau tahu tentang FM Indonesia, buruan supaya ngak nyesel, segera klik
www.sahabat-wangi.com/index.php?id=drfreddy
WA 081808395318
BBM 5376DABF
Email federicomahora@outlook.com
http://freddyfragrance.blogspot.co.id/
Jangan lupa "Like" www.facebook.com/federicomahoraindonesia#

Mau beli atau jualan parfum?

BAB 9 NEONATUS (Nelson 20th edition)

www.sahabat-wangi.com/index.php?id=drfreddy
Mau beli atau jualan parfum?

BAB 9 NEONATUS (Nelson 20th edition)

Tidak memandang usia gestasi, periode neonatus dimulai saat kelahiran dan sampai bulan pertama kehidupan.
Selama masa ini, transisi fisiologik bermakna terjadi di semua sistem organ dan infant belajar untuk berespon terhadap berbagai bentuk stimulus ekternal.
Karena infant bertumbuh secara fisik dan psikologis dalam hubungan sosialnya.

PERAN ORANG TUA DALAM MOTHER – INFANT ATTACHEMENT
Menjadi orang tua neonatus membutuhkan dedikasi karena kebutuhan neonatus urgent, terus-menerus, dan kadang tidak jelas.
Orang tua harus memperhatikan signal infant dan berespon secara empati.
Banyak faktor yg mempengaruhi kemampuan orang tua dalam hal ini.

FAKTOR PRENATAL
Kehamilan adalah periode persiapan psikologis untuk profound demands of parenting.
Wanita dapat mengalami ambivalence, khususnya bila kehamilan tidak direncanakan.
Bila financial worries, penyakit fisik, prior miscarriages atau stillbirths, atau krisis lain yg interfere dengan persiapan psikologis, the neonate may not be welcomed.
Untuk ibu remaja, the demand that they relinquish their own developmental agenda, seperti kehidupan sosial aktif, may be especially burdensome.

The early experience of being mothered may establish unconsciously held expectation about nurturing relationship that permit mothers to “tune in” to their infants.
Pengharapan ini berhubungan dengan kualitas later infant-parent interactions.
Ibu yg early childhoods ditandai dengan traumatic separations, abuse, atau neglect may find it especially sukar untuk provide consistent, responsive care.
Instead, mereka mungkin reenact pengalaman masa kecil mereka dengan infant mereka sendiri, as if unable to conceive of the mother-child relationship in any other way.
Ikatan tersebut dapat adversely dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko selama kehamilan dan periode postpartum yg melandasi mother-child relationship dan dapat mengancam the infant’s cognitive and emotional development.

PRENATAL RISK FACTORS FOR ATTACHMENT
1.Recent death of a loved one.
2.Previous loss of or serious illness in another child.
3.Prior removal of a child.
4.History of depression or serious mental illness.
5.History of infertility or pregnancy loss
6.Troubled relationship with parents.
7.Financial stress or job loss.
8.Marital discord or poor relationship with the other parent.
9.Recent move or no community ties.
10.No friends or social network.
11.Unwanted pregnancy.
12.No good parenting model.
13.Experience of poor parenting.
14.Drug and/ or alcohol abuse.
15.Extreme immaturity.

DUKUNGAN SOSIAL selama kehamilan, khususnya dukungan ayah dan anggota keluarga dekat, juga penting.
Sebaliknya, konflik dengan atau abandonment oleh ayah selama kehamilan dapat mengurangi kemampuan ibu to become absorbed with her infant.
Antisipasi of an early return to work dapat membuat beberapa wanita reluctant untuk mencintai bayi mereka karena anticipated separation.
Kembali ke kerja harus ditunda minimal 6 minggu, by which time feeding dan basic behavioral adjustments telah terbentuk.

Banyak keputusan harus dibuat orang tua mengantisipasi kelahiran anak mereka.
Satu pilihan penting adalah bagaimana infant dapat diberikan nutrisi.
Di antara keuntungan-keuntungan penting dari ASI adalah kemampuannya untuk promotion of bonding.
Menyediakan pendidikan menyusui untuk orang tua saat kunjugan prenatal oleh spesialis anak dan spesialis kandungan meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam menyusui setelah melahirkan dan mengurangi stress selama periode neonatus.

PERIPARTUM DAN POSTPARTUM INFLUENCES
The continuous presence selama labor of seorang wanita dilatih to offer friendly support dan encouragement (a DOULA) menghasilkan shorter labor, komplikasi obstetric yang lebih sedikit (termasuk cesarean section) dan berkurangnya postpartum hospital stays.
Early skin-to-skin contact antara ibu dan bayi segera setelah kelahiran dapat berhubungan dengan meningkatnya rate dan longer duration of breastfeeding.
Kebanyakan orang tua baru value even a brief period  of uninterrupted time in which to get to know anak mereka, dan meningkatnya mother-infant contact over the 1st days of life dapat meningkatkan interaksi ibu-anak jangka panjang.
Nonetheless, early separaton, meski dapat diprediksi very stressful, does not inevitably mengganggu kemampuan ibu untuk bond dengan bayinya.
Early discharge home dari maternity ward dapat undermine bonding, khususnya bila ibu baru is required to resume tanggungjawab penuh dari tugas rumahtangga yg sibuk.

Depresi postpartum dapat terjadi pada minggu pertama kehamilan sampai 6 bulan setelah kelahiran dan dapat adversely affect pertumbuhan dan perkembangan neonatus.
Metode skrining digunakan selama kunjungan neonatus dan bayi ke spesialis anak.
Referral for care akan sangat mempercepat penyembuhan.

PERAN BAYI DALAM MOTHER-INFANT ATTACHMENT
The in utero environment contributes besar tetapi not completely ke future growth and development dari bayi.
Abnormalitas pada sirkulasi plasenta maternal-feal dan metabolisme glukosa ibu atau adanya infeksi ibu yg dapat mengakibatkan pertumbuhan fetal tidak normal.
Sebagai hasilnya bayi dapat kecil atau besar untuk masa kehamilan.
Abnormalitas pola pertumbuhan tidak hanya predispose infant to an increased requirement untuk intervensi medis tapi dapat mempengaruhi kemampuan mereka berespon behaviorally terhadap orang tuanya.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan neonatus harus mencakup evaluasi pertumbuhan dan observasi kelakuan.
Rata-rataberat badan term newborn adalah 3.4kg, laki sedikit lebih berat daripada wanita.
Rerata berat bervariasi tergantung etnik dan status sosioekonomi.
Spesifik growth charts untuk kondisi yang dihubungkan dengan variasi pola pertumbuhan sudah dibuat.
Respon bayi berguna saat diperiksa berguna untuk menilai vigor, alertness, dan tonenya.
Mengamati bagaimana orang tua menangani bayinya, their comfort dan affection juga penting.
Urutkan pemeriksaan fisik mulai dari yang paling sedikit ke yang paling banyak intrusive maneuver.
Menilai visual tracking dan respon terhadap suara dan memperhatikan perubahan tone dengan level aktivitas dan alertness sangat membantu.
Lakukan pemeriksaan ini dan bagikan impression dengan orang tua sangat penting untuk memfasilitasi bonding.

KEMAMPUAN INTERAKSI
Segera setelah kelahiran, neonatus are alert dan siap untuk berinteraksi dan nurse.
This first alert-awake period dapat dipengaruhi oleh analgesik ibu dan anestetik dan fetal hypoxia.
Neonatus are nearsighted, fixed focal length of 8-12 inches, kira-kira jarak dari payudara ke muka ibu, as well as an inborn visual preference for faces.
Pendengaran juga well developed, dan bayi preferentially turn toward a female voice.
These innate abilities dan predileksi meningkatkan likelihood bila ibu gazes kepada bayinya, bayi pun akan gaze back.
Periode awal dari interaksi sosial, biasanya sekitar 40 menit, diikuti periode somnolence.
Setelah itu, periode singkat alertness atau excitation alternate with sleep.
Bila ibu misses her baby’s first alert-awake period, ia may not experience as long a period of social interaction untuk beberapa hari.
Hypothalamic – Midbrain – Limbic – Paralimbic – Cortical circuit of the parents interact to support responses to the infants that are critical for effective parenting (e.g., emotion, attention, motivation, empathy, and decision making).

MODULATION OF AROUSAL
Adaptasi ke extrauterine life memerlukan rapid and profound physiologic changes, termasuk Aeration of the lungs, Rerouting of the circulation, and Activation of the intestinal tract.
Untuk Mendapatkan nourishment, untuk Menghindari hypo dan hyperthermia, dan untuk Menjamin keamanan, neonatus harus bereaksi sesuai to an expanded range of sensory stimuli.
Neonatus harus menjadi aroused dalam respon terhadap stimulus, tapi tidak terlalu overaroused sehingga tingkah bayi menjadi disorganized.
Underaroused infants tidak dapat makan dan interaksi; Overaroused infants menandakan INSTABILITAS OTONOM termasuk Flushing atau Mottling, Perioral pallor, Hiccupping, Vomiting, Uncontrolled limb movements, dan Inconsolable crying.

BEHAVIORAL STATES
The organization dari kelakuan bayi menjadi discrete behavioral states dapat merefleksikan infant’s inborn ability to regulate arousal.
Six states telah described: Quiet sleep, Active Sleep, Drowsy, Alert, Fussy, dan Crying.
Pada Alert state, bayi visually fixate pada objek atau muka dan follow them horizontally dan dalam waktu sebulan vertikal; mereka juga reliably turn toward a novel sound, as if searching for its source.
Ketika Overstimulated, mereka menenangkandiri sendiri dengan melihat ke bawah, menguap, dan mengisap bibir dan tangannya, sehingga meningkatkan aktivitas parasimpatik dan mengurangi sympathetic nervous activity.
Behavioral state menentukan tonus otot bayi, gerakan spontan, pola elektroensefalogram, dan respon terhadap stimulus.
Active sleep, bayi menunjukkan progressively less reaction to a repeated heel stick (habituation) sedangkan Drowsy state, stimulus yg sama dapat membuat bayi fussing or crying.

MUTUAL REGULATION
Orang tua berpartisipasi aktif dalam infant’s state regulation, bergantian stimulating and soothing.
Pada gilirannya, mereka diatur oleh signal dari bayi, berespon terhadap tangis kelaparan dengan letdown of milk (atau dengan botol).
Interaksi seperti ini contitute sebuah sistem directed toward furthering the infant’s physiologic homeostasis dan pertumbuhan fisik.
Pada waktu yg bersamaan, mereka membentuk dasar untuk emerging hubungan psikologik antara orang tua dan anak.
Bayi come untuk menghubungkan kehadiran orang tua dengan pleasurable pengurangan ketegangan (seperti dalam proses feeding) dan menunjukkan preferensi ini dengan lebih mudah tenang bila ada ibunya daripada orang asing.
Response ini pada gilirannya, memperkuat mother’s sense of efficacy dan hubungannya dengan bayinya.

IMPLIKASI UNTUK SPESIALIS ANAK
Spesialis anak dapat mendukung perkembangan sehat bayi dalam beberapa cara.

PRAKTEK OPTIMAL
Kunjungan prenatal ke spesialis anak mengijinkan spesialis anak menilai potensial ancaman terhadap bonding (a tense spousal relationship) dan sumber dukungan sosial.
Kebijaksanaan Rumah Sakit yang mendukung termasuk Penggunaan birthing rooms daripada kamar operasi dan delivery rooms; Encouragement untuk ayah atau saudara atau teman yang dipercaya untuk menemani ibu selama persalinan atau Penyediaan professional doula; the practice memberikan neonatus ke ibu segera setelah dikeringkan dan a brief assessment; Penempatan neonatus di ruang ibu daripada central nursery; dan Menghindari distribusi formula bayi di RS.
Kebijakan “Baby Friendly Hospital” telah bermakna meningkatkan angka breastfeeding.
Setelah pulang, kunjungan rumah oleh perawat dan konselor laktasi dapat mengurangi masalah early feeding dan mengidentifikasi kondisi medis yang muncul padaibu maupun bayi.
Bayi yg memerlukan transport ke rumah sakit lain, harus dibawa untuk melihat ibu dahulu, kalau semua itu mungkin.
Pada saat pulang ke rumah, ayah dapat melindungi ibu dari kunjungan-kunjungan dan telepon yang tidak perlu dan mengambil alih tugas rumah tangga, allowing ibu dan bayi time to get to know each other without distractions.
Kunjungan pertama sebaiknya dalam 2 minggu pertama setelah pulang dari RS untuk menentukan kelancaran ibu dan anak membuat transisi ke kehidupan di rumah.
Bayi yang dipulangkan dini, Mereka yang ASI, dan Mereka yang berisiko jaundice harus dilihat dalam 1-3 hari setelah pulang.

MENILAI INTERAKSI ORANG TUA – BAYI
Selama a feeding atau bila bayi alert atau face-to-face dengan orang tuanya, adalah normal untuk dyad  to appear absorbed in one another.
Bayi yg menjadi overstimulated oleh suara ibunya atau aktivitas may turn away atau menutup matanya, mengakibatkan terminasi prematur dari encounter.
Alternatively, bayi sudah siap untuk berinteraksi, tapi ibu tampat preoccupied.
Tanyakan ibu baru tentang keadaan emosionalnya dan khususnya riwayat depresi, Fasilitasi untuk rujukan untuk terapi, sehingga menyediakan keuntungan jangka panjang bagi bayi.
Spesialis anak dapat mendeteksi depresi postparum menggunakan EDINBURGH POSTNATAL DEPRESSION SCALE at wellchild visits during the 1st yr.

PENGAJARAN TENTANG KOMPETENSI INDIVIDUAL
The NEWBORN BEHAVIOR ASSESSMENT SCALE (NBAS) menyediakan pengukuran formal tentang kompetensi neurodevelopmental bayi, termasuk State control, Autonomic reactivity, Reflexes, Habituation, and Orientation toward auditory and visual stimuli.
Pemeriksaan ini dapat juga digunakan untuk memperlihatkan kepada orang tua tentang infant’s capabilities and vulnerabilities.
Orang tua dapat belajar bahwa mereka perlu menelanjangi bayi mereka untuk meningkatkan level arousal atau untuk swaddle bayi untuk mengurangi over-stimulation by containing random arm movements.
NBAS digunakan untuk mendukung perkembangan early parent-infant relationships yg positif.
Demonstrasi NBAS ke orang tua pada minggu pertama kehidupan telah memperlihatkan perbaikan dalam caretaking environment bulan-bulan berikutnya.


========================================================================

Mau tahu tentang FM Indonesia, buruan supaya ngak nyesel, segera klik
www.sahabat-wangi.com/index.php?id=drfreddy
WA 081808395318
BBM 5376DABF
Email federicomahora@outlook.com
http://freddyfragrance.blogspot.co.id/
Jangan lupa "Like" www.facebook.com/federicomahoraindonesia#

Mau beli atau jualan parfum juga?